//
you're reading...
Business, Economics

Pembangunan Pertanian Untuk Meningkatkan Ekonomi Perdesaan Di Era Otonomi Daerah



Udin Wiratno & Udi Wijayanti
Pentingnya Peranan Sektor Pertanian
Sektor pertanian menjadi salah satu komponen pembangunan nasional dalam menuju swasembada pangan guna mengentaskan kemiskinan. Pentingnya peran sektor pertanian dalam pembangunan nasional diantaranya: sebagai penyerap tenaga kerja, menyumbang Produk Domestik Bruto (PDB), sumber devisa, bahan baku industri, sumber bahan pangan dan gizi, serta pendorong bergeraknya sektor-sektor ekonomi lainya.

Di era otonomi daerah, pemerintah daerah memiliki keleluasaan dalam perumusan permasalahan dan kebijakan pembangunan pertanian. Pelaksanaan otonomi daerah dan desentralisasi diharapkan akan mampu menjamin efisiensi dan efektifitas pelaksanaan pembangunan pertanian, sehingga dapat memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi kesejahteraan masyarakat.

Pada kenyataannya, sampai saat ini sektor pertanian masih menghadapi banyak permasalahan. Kebijakan pemerintah daerah yang kurang berpihak pada sektor pertanian menjadi kendala dalam perkembangan sektor pertanian. Pemerintah daerah lebih memperhatikan sektor industri karena sektor industri selama ini diklaim memberikan pendapatan yang tinggi kepada daerah. Investor juga lebih tertarik menanamkan modalnya pada sektor industri dibanding sektor pertanian. Ini semakin menambah deretan permasalahan pembangunan sektor pertanian

Permasalahan-Permasalahan Dalam Pembangunan Pertanian
Sebagai komponen dalam pembangunan dan penopang seluruh kehidupan masyarakat, sektor pertanian sering dihadapkan pada berbagai permasalahan. Permasalahan-permasalahan dalam sektor pertanian antara lain :

1. Penguasaan dan akses teknologi pertanian lemah.
Tingkat pendidikan petani yang sebagian besar masih rendah menyebabkan sistem alih teknologi lemah dan penerapan teknologi kurang tepat sasaran. Akses informasi teknologi yang mendukung pembangunan pertanian diperdesaan cenderung lebih sulit didapatkan, sehingga menyebabkan pembangunan pertanian menjadi terhambat. Pada era desentralisasi kegiatan penyuluhan kurang mendapat perhatian dari pemerintah daerah. Hal ini mengakibatkan keterkaitan antara peneliti, penyuluh, dan petani kurang intensif sehingga diseminasi teknologi menjadi lambat dan kurang tepat sesuai kebutuhan.

2. Infrastruktur pertanian terbatas dan terabaikan.
Masalah yang paling krusial dan sampai saat ini belum teratasi dengan bijaksana yaitu pengembangan infrastruktur pertanian. Keberadaan kelembagaan seperti balai karantina, laboratorium uji mutu, irigasi, listrik, transportasi, keuangan, unit pengolahan dan pemasaran masih terbatas akibatnya usaha pertanian kurang berkembang.

3. Kelembagaan pertanian belum berfungsi secara maksimal.
Kelembagaan petani di tingkat desa sebagian besar merupakan kelembagaan informal dimana sistem organisasi, manajemen, maupun administrasi kelembagaannya belum dapat berfungsi secara maksimal. Lembaga petani yang dapat menjadi alat untuk meningkatkan skala usaha untuk memperkuat posisi tawar petani sudah banyak yang tidak berfungsi.

4. Nilai tambah dan harga produk pertanian rendah.
Sektor pertanian Indonesia masih sangat tergantung pada hasil primer, sehingga nilai tambah produk yang diperoleh masih rendah dan kurang kompetitif dipasar domestik maupun luar negeri.
Ketersediaan sumber daya manusia pengelola pertanian terbatas.
Sejak dahulu prosentase peluang terbesar penyerap tenaga kerja di Indonesia ada di sektor pertanian. Di era globalisasi ini, ketersediaan sumber daya manusia yang mau dan mampu mengelola di bidang pertanian sudah semakin berkurang karena rendahnya regenerasi petani. Generasi muda yang diharapkan sebagai penerus, lebih tertarik dibidang selain pertanian sehingga menjadi kendala dalam perkembangan sektor pertanian.

5. Tingginya harga sarana produksi pertanian.
Harga sarana produksi pertanian kian hari kian tinggi. Disamping itu ketersedian saprotan (misalnya pupuk dan benih unggul) dipasaran ketika musim tanam tiba terkadang sangat terbatas. Pengurangan subsidi saprotan membuat biaya usaha pertanian semakin tinggi, sehingga tidak sebanding dengan harga hasil panen produk pertanian. Ini akan menjadi beban petani yang ditangung secara terus menerus sehingga mengakibatkan sektor pertanian mengalami penurunan.

6. Perubahan iklim yang tajam.
Perubahan iklim yang ekstrim mengakibatkan fluktuasi dan penurunan produktivitas pertanian, bahkan dapat menyebabkan gagal panen yang dapat terjadi berulang-ulang.

7. Struktur pasar yang monopsonis.
Penguasaan akses pasar yang lemah sangat merugikan petani. Produk pertanian umumnya harus menghadapi struktur pasar yang monopsonis. Kondisi infrastruktur perdesaan (transportasi, pasar, gudang) yang belum memadai juga menyebabkan rantai tata niaga menjadi panjang. Akibatnya petani kurang dekat dengan pasar dan posisi tawar petani dipasar menjadi lemah karena harga beli “ditentukan” oleh pedagang pengepul dan tengkulak.

8. Lemahnya akses permodalan.
Akses petani terhadap sumber-sumber permodalan masih sangat terbatas. Keterbatasan modal ini karena petani Indonesia adalah petani kecil (gurem) yang kurang mampu memenuhi persyaratan dan prosedur pengajuan kredit kepada bank maupun lembaga keuangan formal lainnya. Akibatnya sebagian besar petani lebih akrab dengan sumber-sumber pembiayaan informal (pedagang input/output, tengkulak, dan kelompok) karena sumber-sumber ini “sangat mengerti” kondisi dan kebutuhan petani.

9. Ketersediaan dan pemanfaatan lahan pertanian belum optimal.
Tingginya alih fungsi atau konversi lahan pertanian ke non pertanian akibat kebijakan sekarang sedang menjadi fenomena yang terjadi di hampir seluruh wilayah. Berkurangnya luasan lahan yang digunakan untuk kegiatan pertanian secara signifikan dapat mengganggu stabilitas kemandirian, ketahanan dan kedaulatan pangan baik lokal maupun nasional. Disamping itu, produktivitas lahan menurun akibat intensifikasi berlebihan dan penggunaan pupuk kimia secara terus menerus serta masih banyak lahan tidur yang belum dimanfaatkan.

Upaya Peningkatan Peran Sektor Pertanian
Untuk lebih meningkatkan peran sektor pertanian pelaku pembangunan pertanian harus mampu membangun usaha yang berdaya saing tinggi dan mampu berperan serta dalam melestarikan lingkungan hidup. Beberapa rekomendasi strategi pembangunan pertanian dalam upaya peningkatan peran sektor pertanian dan perdesaan, yaitu :

  • Meningkatkan kegiatan penyuluhan guna menggalakan sistem alih teknologi dan percepatan penyebaran informasi pembangunan pertanian melalui pendampingan petani.
  • Perbaikan infrastruktur pertanian dan peningkatan teknologi tepat guna yang berwawasan pada konteks kearifan lokal serta pemanfaatan secara maksimal penelitian dibidang pertanian.
  • Penguatan sistem kelembagaan pertanian dan perdesaan melalui penumbuhan kesadaran petani terhadap hak-hak petani melalui pembinaan yang berkelanjutan, penguatan organisasi dan jaringan tani.
  • Peningkatan nilai tambah komoditas melalui pengembangan agroindustri yang berbasis sumber daya domestik dan perdesaan, sehingga dapat meningkatkan daya saing komoditas pertanian dan kesempatan kerja terhadap perekonomian perdesaan makin luas.
  • Peningkatan kualitas sumber daya manusia dengan meningkatkan kemampuan penguasaan teknologi, kewirausahaan, dan manajemen usaha tani melalui penyuluhan pertanian, dan pengembangan sistem pendidikan dibidang pertanian yang menarik minat dan bakat generasi muda.
  • Kebijakan daerah mengenai program insentif usaha tani melalui pemberian jaminan harga, subsidi pupuk yang tepat sasaran dan bersifat produktif, serta keringanan pajak.
  • Sosialisasi informasi prakiraan iklim yang handal guna menekan angka gagal panen akibat perubahan iklim yang ekstrim. Dengan adanya informasi prakiraan iklim yang handal petani dapat menyesuaikan sistem budidaya atau strategi penanaman dengan prakiraan iklim tersebut
  • Perlunya menciptakan pengembangan pasar dan jaringan pemasaran yang berpihak kepada petani berupa pasar alternatif dengan rantai tata niaga pendek (direct marketing), mendorong terwujudnya organisasi tani yang kuat dan berakar serta meningkatkan kemudahan layanan akses sumber informasi dan teknologi.
  • Menumbuh kembangkan program pembiayaan pertanian melalui lembaga keuangan khusus yang melayani petani.

Menggalakan sistem pertanian yang berbasis pada konservasi lahan, pengembangan sistem pertanian ramah lingkungan (organik) dan pemanfaatan lahan tidur untuk pemberdayaan masyarakat daerah.
Pembangunan pertanian bukan hanya dihadapkan pada permasalahan dalam lingkup pertanian saja. Perubahan sistem pemerintahan sentralistik menjadi desentralisasi, yang memberikan kesempatan kepada daerah untuk mengelola sumber daya ekonominya secara mandiri, merupakan tantangan tersendiri dalam bidang tata kelola pemerintahan dan birokrasi yang mendukung pembangunan pertanian. Dalam hal ini, koordinasi antara pusat dan daerah serta integrasi sistem pembangunan pertanian akan meingkatkan percepatan pembangunan pertanian. Selain itu, globalisasi yang menjadi pintu gerbang bagi arus masuk barang mengakibatkan peningkatan produk pertanian dari luar negeri, dan arus informasi mengakibatkan perubahan cara pandang masyarakat. Untuk itu, pembangunan pertanian di Indonesia tidak saja dituntut untuk menghasilkan produk-produk yang berdaya saing tinggi, pembangunan pertanian diharapkan mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi daerah serta pemberdayaan masyarakat. Tantangan tersebut mengharuskan kita untuk bekerja keras, apabila menginginkan pertanian menjadi pendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat dan dapat menjadi motor penggerak pembangunan bangsa.

Referensi :
Anton Apriantono. Konsep Pembangunan Pertanian, (Online), (htpp://www.deptan.go.id/renbangtan/Konsep_Pembangunan_Pertanian.pdf), diakses 28 Juli 2011
Ashari. Peranan Perbankan Nasional Dalam Pembiayaan Sektor Pertanian di Indonesia. (Online), (htpp://litbang.deptan.go.id/Ind/pdf), diakses 2 Juli 2011
Deptan, (2006). Program dan Kegiatan Departemen Pertanian Tahun 2007, (Online), (htpp://www.deptan.go.id/renbangtan/Progkeg), diakses 28 Juli 2011
Wan Abas Zakaria. Penguatan Kelembagaan Kelompok Tani Kunci Kesejahteraan Petani. Makalah Seminar Nasional. (Online), (htpp://litbang.deptan.go.id/Ind/pdf), diakses 2 Juli 2011
Gambar: http://farmlandgrab.org/wp-content/uploads/2010/05/88_power_to_the_farmers.jpg

About these ads

About UW

Simple plan is let it flow to let it go.

Discussion

2 thoughts on “Pembangunan Pertanian Untuk Meningkatkan Ekonomi Perdesaan Di Era Otonomi Daerah

  1. Pengamatan sepintas di Sidenreng Rappang, Sulawesi Selatan petaninya makmur karena memiliki lahan yang luas, irigasi bagus, dan dilalui trans Sulawesi.

    Posted by irawan | October 22, 2011, 12:55 pm
  2. wahhh,,,bisa jadi percontohan tuh. hauhauhau

    Posted by UW | October 24, 2011, 6:27 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Tweethink

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 575 other followers

Calendar

October 2011
M T W T F S S
« Jan   Nov »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 575 other followers

%d bloggers like this: