Pada saat kita berbicara tentang efisiensi di dalam perusahaan maka yang sekilas kita tangkap adalah mengenai pemangkasan biaya, perampingan organisasi dan perampingan produksi. Pada dasarnya efisiensi di dalam perusahaan dilakukan untuk mendongkrak profitabilitas. Efisiensi diharapkan dengan efisiensi dapat menekan biaya sehingga menghasilkan harga jual yang dapat berasing dengan tidak mengorbankan profit.

Efisiensi di dalam perusahaan sudah menjadi bahasan atau fokus pencapaian sejak lama, bagaimana mengurangi kegagalan produksi? Improvement supaya menghasilkan cara kerja yang efektif sehingga tercipta efisiensi di dalam proses produksi? Bagaimana dengan input yang terbatas perusahaan dapat menghasilkan output yang maksimal? Sehingga banyak alat pengukuran atau penciptaan efisiensi yang salah satunya adalah six sigma.

Six sigma pertama kali dikembangkan oleh Motorola, lalu GE menyempurnakan Six sigma sehingga menjadi sebuah alat yang teruji untuk menciptakan efisiensi dan efektifitas serta dapat meningkatkan kinerja perusahaan. Dalam perkembangannya seiring dengan persaingan yang sangat ketat, perusahaan dituntut tidak sekedar menciptakan efisiensi dan efektifitas. Pada era sekarang ini perusahaan dituntut untuk selalu tumbuh dan berkembang dalam pencapaian laba ataupun peningkatan nilai perusahaan.

Dalam banyak kasus, menciptakan pertumbuhan atau mempertahankan agar perusahaan tetap tumbuh sering terabaikan. Terdapat jurang pemisah antara mempertahankan perusahaan agar tetap tumbuh dengan penciptaan efisiensi dengan pemangkasan biaya di dalam perusahaan. Pada skala 1 sampai 10 perusahaan yang berhasil dalam efisiensi hanya 2 yang dapat mempertahankan atau menciptakan pertumbuhan perusahaan.

Hasil dari kasus di atas bukan sangkalan mengenai efisiensi itu tidak penting, melainkan keduanya adalah konsep dasar untuk mendukung keunggulan kompetitif. Kebanyakan perusahaan akan melakukan pemangkasan biaya terlebih dahulu sebelum mengambil langkah untuk menemukan cara agar perusahaan tetap tumbuh. Bias ini dikarenakan dalam pemangkasan biaya atau efisiensi tidak memperhatikan kebutuhan atau keinginan konsumen. Sehingga dalam banyak kasus pemangkasan biaya tidak efisien dalam memecahkan masalah perusahaan. Untuk menciptakan nilai, perusahaan harus memahami dan mengukur bagaimana produk dan servis perusahaan bernilai bagi konsumennya dan bagaimana nilai produk dan servis tersebut dapat memuaskan kedua belah pihak yaitu perusahaan dan konsumen.

Buku ini memperkenalkan pendekatan Customer Value Creation (CVC) agar perusahaan tetap tumbuh atau tetap berada pada fase pertumbuhan. Dalam pengertian yang lebih mendalam, CVC merupakan filosofi perusahaan yang terdiri dari Customer Value Analysis (CVA) dan Operational Excellence. Prinsip fundamental yang terdapat di dalam CVC adalah meningkatkan laba yang dapat dicapai dengan menciptakan dan memberikan nilai kepada konsumen.

CVA fokus pada menciptakan dan berbagi nilai bersama konsumen. Dalam pelaksanaannya konsep CVA harus dilihat lebih dalam. CVA merupakan pandangan perusahaan diluar perusahaan dimana perusahaan memposisikan diri sebagai konsumen perusahaan tersebut untuk dapat lebih memahami bagaimana nilai itu bisa sampai dan bermanfaat bagi konsumen. Berbagi nilai disini adalah dengan memberikan nilai manfaat kepada konsumen perusahaan mendapatkan imbalan berupa laba. Lebih jauh lagi dalam buku ini dibahas mengenai CVA sebagai solusi agar perusahaan tetap terus tumbuh.

Operation Excellence (OE) merupakan pendekatan berdasarkan pada proses opreasional. Berdasarkan konsep CVC keunggulan operasional adalah dimana terjadi satu kesatuan antara manusia, proses dan teknologi yang memposisikan dirinya sebagai konsumen untuk menciptakan pertumbuhan yang menguntungkan bagi perusahaan.

Plaster dan Alderman di dalam buku ini berpendapat bahwa, jika perusahaan ingin mencapai pertumbuhan yang terus-menerus maka perusahaan tersebut harus berpikir diluar six sigma, mempunyai pandangan outside-in, dan harus menjabarkan tentang arti sebuah nilai.

Selama ini six sigma menekankan pada pengurangan biaya dan efektifitas organisasi. Six sigma lebih menekankan pada efisiensi operasional perusahaan. Berpikir diluar six sigma mengandung pengertian bahwa penciptaan efisiensi operasional perusahaan harus berdasarkan pada pandangan penciptaan nilai konsumen. Sebelum melakukan efisiensi operasional perusahaan terlebih dahulu harus memahami dan menentukan nilai suatu barang yang diinginkan oleh konsumen. Berdasarkan data dan fakta yang dimiliki oleh perusahaan tentang konsumennya, perusahaan harus membuat nilai dari sebuah produk yang sesuai dengan keinginan atau nilai suatu barang bagi konsumen. Di dalam six sigma terdapat black belts yang bertugas menciptakan efisiensi di dalam perusahaan. Pandangan diluar six sigma membutuhkan platinum belts yang mentransfer nilai-nilai suatu barang yang dibutuhkan oleh konsumen kedalam proses operasional perusahaan. Agar perusahaan dapat memahami konsumen maka dibutuhkan pandangan keluar yang ditarik kedalam perusahaan dan menjadi landasan operasional perusahaan (outside-in prespective).

Pada umumnya perusahaan tidak bisa memahami konsumennya karena tidak menerapkan outside-in prespective. Seringkali perusahaan mendapat hambatan dalam outside-in prespective. Faktor yang pertama karena faktor alamiah yang manusiawi seperti perusahaan bersikap individualis dan mementingkan kepentingan perusahaan sehingga konsumen terabaikan. Faktor penghambat yang ke dua yaitu padangan operasional. Pada umumnya pandangan operasional dipandang oleh perusahaan sebatas efisiensi saja, sehingga kebutuhan dan keinginan konsumen terabaikan. Dan faktor penghambat yang ke tiga yaitu ketersediaan data mengenai kebutuhan dan keinginan konsumen. Sampai sekarang ini sangat sulit untuk mendapatkan data yang valid mengenai konsumen perusahaan.

Sekarang ini perusahaan memerlukan pandangan konsumen yang ditarik kedalam perusahaan untuk menjadi acuan dalam proses produksi (outside-in prespective). Sehingga perusahaan dapat menetapkan posisinya sebagai pencipta nilai bagi konsumennya. Dengan memahami konsumennya pada akhirnya perusahaan dapat memberikan nilai lebih kepada konsumen dibanding perusahaan-perusahaan lainnya. Untuk itu perusahaan harus memahami atau menjabarkan arti sebuah nilai barang yang dimaksud oleh konsumen.

Lebih jauh lagi Plaster dan Alderman membahas tentang konsep CVC yang didasarkan pada value identification dan value exchange. Dimana value identification sebagai landasan pembuatan produk yang mengacu pada customer value. Produk yang dibuat oleh perusahaan harus terdapat atribut sebuah produk yaitu customer value.
Atribut sebuah produk yang mengandung customer value meliputi:
 Produk : performen, fitur dan fungsi, dan inovasi teknis
 Akses : ketersediaan, kemudahan untuk didapat dan rantai
distribusi
 Experience : servis, solusi, manfaat yang dapat dirasakan oleh
konsumen, dan brand
 Cost : harga, total biaya untuk memiliki, biaya proses, dan alat
pembayaran
Dengan penciptaan customer value yang didukung oleh sistem produksi yang efisien perusahaan dapat menciptakan keunggulan kompetitif guna menghadapi persaingan dipasar.

Plaster dan Alderman menjabarkan pertumbuhan perusahaan kedalam tiga dimensi yaitu peningkatan laba perusahaan, peningkatan jumlah konsumen perusahaan dan peningkatan kualitas. Ketiganya mempunyai hubungan keterkaitan antara satu dengan lainnya. Untuk meningkatkan laba perusahaan, perusahaan harus meningkatkan kualitas produk perusahaan seiring dengan itu maka pangsa pasar perusahaan akan meningkat.
Kebanyakan perusahaan memandang pertumbuhan sebagai sesuatu yang general dan rancu. Seringkali pertumbuhan diidentifikasikan dengan peningkatan laba perusahaan. Pandangan tersebut menyebabkan perusahaan tidak bisa menciptakan customer value dan mempertahankan tingkat pertumbuhannya. Konsep dimensi pertumbuhan perusahaan dapat membantu perusahaan dalam memetakan pertumbuhannya sehingga perusahaan dapat menentukan strategi yang sesuai dan prioritas pertumbuhan.

Sebagai contoh sebuah perusahaan mengalami tingkat pertumbuhan laba tetapi pangsa pasarnya sedikit dan perusahaan tersebut ingin meningkatkan pangsa pasarnya. Untuk mendapatkan pangsa pasar baru, perusahaan tersebut mengeluarkan produk baru dengan segmen yang berbeda. Tetapi produk baru tersebut mempunyai biaya yang sangat besar sehingga harga jual produk tidak bersaing di pasaran. Dengan pemahaman konsumen terlebih dahulu maka perusahaan dapat menciptakan customer value sehingga perusahaan dapat menentukan efisiensi produk untuk menekan harga jual produk.

Perusahaan dapat memilih antara pertumbuhan laba dan pertumbuhan economic of scale. Pertumbuhan laba menekankan pada pencapaian margin laba yang diperoleh oleh perusahaan, sedangkan economic of scale meningkatkan pangsa pasar perusahaan guna meningkatkan produksi perusahaan.

Untuk meningkatkan laba perusahaan atau meningkatkan economic of scale terlebih dahulu menetapkan segmeting, targeting dan positioning dan penciptaan customer value sebagai dasar atas peningkatan laba perusahaan. Keunggulan dalam operasional berdasarkan customer value dapat menciptakan efisiensi sehingga harga poroduk dapat bersaing.

Dimensi pertumbuhan dapat digunakan untuk menentukan poin pokok dalam memcapai pertumbuhan sehingga perusahaan dapat menentukan langkah yang bisa dilakukan dan apa yang seharusnya dilakukan oleh perusahaan.

Buku ini juga menjabarkan pendekatan dan menjelaskan langkah-langkah yang harus dilakukan oleh perusahaan, jika fokus pada pertumbuhan peningkatan margin laba, jumlah konsumen dan peningkatan kualitas.

Untuk peningkatan pertumbuhan laba, perusahaan dapat menggunakan pendekatan Activity Based Costing (ABC) sebagai alat untuk efisiensi dan kepuasan konsumen. Sedangkan untuk meningkatkan kualitas produk perusahaan bisa dilakukan dengan meningkatkan pemahaman mengenai keinginan konsumen dan menciptakan produk baru yang inovatif, perusahaan harus menggali target pasar perusahaan untuk menciptakan customer value yang baru. Dan untuk meningkatkan pangsa pasar perusahan, perusahaan harus mengidentifkasi bagaimana perusahaan menciptakan customer value pada konsumen sekarang dan mengidentifikasi penciptaan cutomer value untuk pangsa pasar yang baru. Sebelumnya perusahaan harus menentukan pangsa pasar baru perusahaan. Peningkatan pangsa pasar perusahaan berkaitan dengan ekspansi perusahaan ke daerah lain. Sehingga perusahaan harus menganalisis karakteristik konsumen di daerah yang menjadi target pasar baru.

Dalam implementasinya, peningkatan efisiensi proses produksi dan efektifitas organisasi perusahaan menjadi faktor pendukung dalam meningkatkan pertumbuhan peusahaan. Efisiensi proses produksi dan organisasi berkaitan dengan budaya perusahaan. Untuk menciptakan pertumbuhan, perusahaan harus menciptakan budaya customer centric dalam perusahaan. Dimana landasan perusahaan adalah untuk menciptakan nilai yang berguna bagi konsumennya.

Sekilas buku ini terkesan teoritis, karena banyak membahas konsep tentang efisiensi, tetapi disaat kita membahas tentang efisiensi di dalam perusahaan maka kita tidak bisa lepas dari filosofi efisiensi itu sendiri. Di dalam buku ini, Plaster dan Alderman banyak membahas tentang konsep efisiensi yang dibarengi dengan penciptaan nilai bagi konsumen. Dengan disertai dengan panduan dan pengukuran penciptaan efisiensi di dalam perusahaan maka buku ini sangat menarik baik untuk panduan praktis maupun untuk pengembangan wawasan mengenai konsep efisiensi yang disertai dengan penciptaan nilai bagi konsumen.

Judul : Beyond Six sigma ” Profitable Growth Through Customer Value
Creation ”
Penulis : Gray Plaster & Jerry Alderman
Penerbit : John Welly & Son Inc. 2006
Tebal : XVI + 303 Halaman
Publikasi: SWA tahun 2007