Tags

, , ,


By Udin Wiratno
Highlight Kondisi Ekonomi Nasional
Setelah kejatuhan Lehman Brothers dunia sadar bahwa krisis yang terjadi di Amerika Serikat akan berdampak serius terhadap perekonomian setiap negara. Hampir dua bulan berlalu setelah kejadian tersebut perekonomian Indonesia mulai terkena dampak dari krisis finansial global. Ketahanan finansial Indonesia mendapat tekanan berat melalui krisis likuiditas. Bank Indonesia terpaksa melakukan operasi pasar dengan menyalurkan dana segar ke perbankan nasional senilai Rp.4,5 triliun untuk menjaga likuiditas nasional. Bursa Efek Indonesia (BEI) harus disuspensi selama tiga hari karena IHSG yang terus menurun. Per 12 November 2008 nilai tukar rupiah terhadap dolar terus melemah mencapai level Rp. 11.160 per dolar.

Indonesia tidak akan luput dari dampak krisis fianansial global. Hal itu dikarenakan modal asing memegang peranan sekitar 30% dalam perekonomian nasional yang terkonversi dalam bentuk surat berharga seperti saham, SUN dan ORI. Pergerakan modal asing sebesar Rp. 15.068,83 miliar menimbulkan guncangan di pasar modal dan menyebabkan rupiah terus melemah. Yang lebih mengkhawatirkan adalah ketika pelemahan nilai tukar rupiah menimbulkan sentimen negatif pasar. Nominal angka Rp.12.000 menjadi aspek penting karena dipercaya sebagai batas pisikologis masyarakat untuk tetap percaya memegang rupiah. Pasar modal memegang peranan sekitar 3,6% dalam memacu pertumbuhan ekonomi. Angka tersebut termasuk kecil namun dampak dari kinerja pasar modal akan berpengaruh pada kinerja perusahaan yang secara otomatis akan mengurangi nilai pasar perusahaan.

Dampak krisis finansial global juga sudah merambat ke sektor industri. Penjualan otomotif nasional menurun drastis. Menurut Ferddy A. Sutrisno target penjualan otomotif sebesar 600 ribu unit untuk tahun 2008 dipastikan tidak tercapai. Ekspor komoditas CPO dan karet untuk periode September-Oktober 2008 menurun dibandingkan periode sebelumnya. Bulan Agustus 2008 ekspor karet untuk daerah Sumatra Selatan mencapai 57.000 ton tetapi akhir September 2008 turun menjadi hanya 50.000 ton. Ekspor CPO untuk daerah Sumatera Selatan untuk bulan Agustus mencapai 100.000 ton, untuk akhir September hanya mencapai 85.000 ton. Gambaran tersebut menunjukan sektor industri komoditi nonmigas yang menyumbang 24,96% terhadap PDB nasional mengalami tekanan berat dengan terjadinya penurunan permintaan ekspor dari negara-negara mitra dagang. Pertanyaan yang paling mendasar dalam menyikapi kejadian tersebut adalah seberapa kuat ketahanan ekonomi nasional menopang dampak krisis finansial global.

Ketahanan Ekonomi Nasional
Menyikapi perkembangan ekonomi yang terus memburuk kita harus menengok cadangan devisa kita. Posisi cadangan devisa nasional per 31 September 2008 US$50.580 juta berkurang sebesar US$6.528 juta hanya dalam satu bulan. Penurunan cadangan devisa sebesar US$6.528 juta selama satu bulan hanya digunakan untuk menstabilakn rupiah dan pasar modal. Pemerintah dan BI melakukan buyback saham dan SUN serta melakukan operasi pasar terbuka guna menjaga kestabilan pasar modal dan nilai tukar rupiah terhadap dolar. Pemerintah menyatakan tahanan devisa sekarang cukup aman karena dapat menopang kegiatan perekonomian selama empat bulan ke depan. Melihat perkembangan nilai tukar rupiah yang terus melemah dan perekonomian yang membutuhkan kelonggaran likuiditas untuk mengerakan sektor riil, sudah pasti cadangan devisa sebesar US$50.580 juta tidak cukup untuk menopang atau mengakselerasi perbaikan ekonomi.

Pergerakan dana luar negeri yang masih fluktuatif dan nilai dolar terhadap mata uang kuat lainnya seperti Euro dan Yen masih belum stabil, menyebabkan pelemahan rupiah masih akan terus berlanjut sampai pada titik dimana pemerintah dapat meyakinkan investor supaya tetap berinvestasi di Indonesia. Hal tersebut mengindikasikan keadaan ekonomi nasional sebenarnya berada pada ambang titik krisis. Keberhasilan pemerintah dan Bank Indonesia dalam meredam dampak krisis finansial global sangat tergantung pada tiga hal yaitu:

1. Melakukan Pendekatan terhadap Pelaku Pasar
Pemerintah dan Bank Indonesia dapat melakukan pendekatan langsung kepada investor baik dalam dan luar negeri dengan memberikan pemahaman mengenai keadaan perkembangan ekonomi nasional supaya tidak terjadi aksi spekulatif. Bagaimanapun setiap orang berkepentingan untuk menjaga perekonomian supaya dapat menjalankan bisnis dengan aman.

2. Menciptakan Lingkungan Bisnis yang Kondusif
Memberikan insetif bagi industri yang bergerak dibidang ekspor dan memberikan kemudahan dalam berbisnis. Kebijakan tersebut akan menarik minat investor untuk tetap berinvestasi di Indonesia.

3. Mengembangkan Potensi Lokal sebagai Penggerak Perekonomian
Kegiatan ekonomi mikro seperti pedagang kaki lima, pasar tradisional, pertanian, peternakan, perkebunan dan industri kreatif adalah basis terakhir penopang perekonomian nasional. Potensi mikro dapat dikembangkan menjadi usaha besar dengan melakukan program kemitraan dan pendampingan usaha.

Berita baik datang dari BI yang menyatakan bawa laba perbankan masih tetap tumbuh walaupun melambat, laba perbankan tumbuh 6% yaitu sebear Rp. 28,38 triliun. Dengan pengalaman krisis 1998 seharusnya pemerintah dan Bank Indoneisa dapat menahan dampak gejolak finansial global. Hanya dengan kerja sama yang solid dan kebijakan yang komperhensif kondisi ekonomi yang sekarang dalam ambang krisis dapat terselamatkan.

Referensi:
http://www.bi.go.id
http://www.depprin.go.id
Gambar: http://2.bp.blogspot.com/