Tags

, , ,



Oleh Udin Wiratno
Indonesia kaya akan sumber daya alam terutama sumber daya kelautan dan perikanan yang pengelolaan dan pemanfaatannya selama ini belum maksimal menghasilkan nilai ekonomi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Sumber daya kelautan dan perikanan dapat digolongkan ke dalam sumber daya yaitu sumber daya tangible dan sumber daya intangible. Sumber daya kelautan dan perikanan yang tergolong tanggible adalah sumber daya nyata, yang langsung dapat dieksplorasi seperti ikan, cumi kerang, rumbut laut, garam (air laut) dan lainnya yang sejenis. Sumber daya kelautan dan perikanan yang tergolong intangible adalah budaya yang tidak terlihat secara fisik, diantaranya keindahan laut, terumbu karang dan buaya lingkungan laut disekitarnya.

Eksplorasi sumber daya kelautan dan perikanan yang tidak meningdahkan lingkunagn akan merusak lingkungan yang akhirnya mengurangi kekayaan sumber daya kelautan dan perikanan yang bersifat intangible sebagai modal dalam pembangunan ekonomi. Untuk terumbukarang, Indonesia termasuk kawasan kaya terumbu karang dimana sekitar 10% terumbu karang di dunia berada di Indonesia. Perkembangan tahun 2006 Sekitar 69 persen dari 2,5 juta hektare terumbu karang di Indonesia, mengalami kerusakan kerusakan. Sedangkan, untuk tingkat pencemaran di lingkungan laut Indonesia juga masih tinggi. ditandai antar lain dengan terjadinya eutrofikasi atau meningkatnya jumlah nutrisi disebabkan oleh polutan. Pencemaran air laut pada umumnya terkontaminasi oleh nutrisi yang berlebihan yang berasal dari limbah industri, limbah domistik seperti deterjen maupun aktifitas pertanian yang menggunakan pupuk kimia di daerah aliran sungai.

Walaupun wilayah kelautan Indonesia masih sangat luas namun pemanfaatan dan pengelolaan Sektor Kelautan dan Perikanan yang ramah lingkungan perlu ditekankan sejak dini menjadi landasan dasar dalam pembangunan. Tidak hanya mengedepankan kesejahteraan tetapi juga mengedepankan kesejahteraan berkesinambungan. Tiga fondasi pokok dalam pembangunan di Sektor Kelautan dan Perikanan untuk mewujudkan kesejahteraan dan kesejahteraan berkesinambungan, diantaranya:
• Economic prosperity
Kesejahteraan ekonomi menjadi tujuan utama dalam pembangunan Sektor Kelautan dan Perikanan. Pembangunan di Sektor Kelautan dan Perikanan harus mengutamakan kesejahteraan masyarakat lokal.
• Environmental protection
Pembangunan di Sektor Kelautan dan Perikanan dilakukan dengan tidak merusak lingkungan dengan melindungi lingkungan melalui kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah.
• Social equity and cohesion
Pembangunan di Sektor Kelautan dan Perikanan tidak hanya mengedepankan pembangunan fisik seperti infrastruktur namun juga pembangunan sosial sebagai modal sosial yang menjadikan masyarakat disekitarnya berpikiran maju dan terbuka. Modal sosial dan kesatuan masyarakat sangat peting untuk dibangun karena keduannya adalah kunci perubahan sosial.

Atas dasar tiga findasi pembangunan tersebut, perlu dipahami sosial masyarakat dari lingkungan kelautan yaitu masyarakat nelayan. Dalam pengelolaan sumber daya kelautan dan perairan, perlu dipahami juga strata sosial pada masyarakat nelayan. Stratifikasi nelayan menurut Satria (2009) adalah sebagai berikut:

• Peseant Fisher (Nelayan Tradisional): Nelayan yang biasanya berorientasi pada pemenuhan kebutuhan sendiri (subsistensi).
• Post Peasant Fisher: Nelayan yang dicirikan dengan penggunaan teknologi penangkapan lebih maju seperti motor temple atau kapal motor.
• Commercial Fisher: Nelayan yang telah berorientasi pada peningkatan keuntungan.
• Industrial Fisher: Ciri nelayan ini diantaranya:
a) diorganisir dengan cara-cara yang mirip perusahaan agroindustri dinegara-negar maju,
b) secara relative lebih padat modal,
c) memberikan pendapatan yang lebih tinggi daripada perikanan sederhana, baik untuk pemilik maupun awak kapal, dan
d) menghasilkan untuk ikan kaleng dan ikan beku yang berorientasi ekspor.

Kusnadi (2002) membagi stratafikasi sosial masyarakat nelayan dilihat dari tiga sudut pandang:

• Sudut pandang penguasaan alat produksi dan peralatan tangkap
o Nelayan pemilik alat produksi dan peralatan tangkap.
o Nelayan buruh yang tidak memiliki alat produksi dan peralatan tangkap.

• Sudut pandang tingkat skala investasi modal usaha.
o Nelayan besar dengan modal usaha besar.
o Nelayan kecil dengan modal usaha kecil.

• Dari sudut pandang penggunaan teknologi produksi dan peralatan tangkap.
o Nelayan modern yang menggunakan peralatan canggih.
o Nelayan tradisional yang menggunakan peralatan tradisional.

Terdapat berbagai kelompok masyarakat yang bergantung pada sumberdaya kelautan dan perikanan. Kehidupan sosial ekonomi dan stratafikasi pada masyarakat nelayan hanya salah satu contoh kelompok masyarakat yang bergantung pada sumberdaya kelautan dan perikanan. Kehidupan sosial ekonomi dan setratafikasi masyarakat nelayan mungkin tidak mewakili semua masyarakat yang bertumpu pada sumberdaya kelautan dan perikanan. Pemahaman atas kehidupan sosial dan stratafikasi masyarakat nelayan dapat dijadikan sebagai pembangunan Sektor Kelautan dan Perikanan untuk meningkatkan kesejahteraan dan membangun kesejahteraan yang berkesinambungan bagi nelayan dan kelompok masyarakat yang bertumpu pada sumber daya kelautan dan perikanan.

Perlu dipahami pengertian kesejahteraan dan kesejahteraan berkesinambungan. Kesejahteraan adalah peningkatan taraf hidup yaitu pemebuhan kebutuhan ekonomi, pendidikan dan kesehatan. Kesejahteraan berkesinambungan adalah kesejahteraan yang terus menerus melalui pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya kelautan dan perikanan yang tidak merusak lingkungan. Pembangunan Sektor Kelautan dan Perikanan yang berlandaskan kesejahteraan berkesinambungan adalah pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya kelautan dan perikanan secara bijak, menjaga kelestarian sumber daya kelautan dan perikanan.