Tags

, , , ,



By ST & UW
Sejarah panjang perjalanan manusia tidak terlepas dari dogma, romansa, dan duka untuk bertahan, hidup dan membangun kehidupan yang lebih baik. Seperti fitrahnya, sebagai khalifah di muka bumi manusia memegang kendali atas sumber daya kehidupan sebagai anugrah dari Yang Maha Kuasa untuk dimanfaatkan sebaik-baiknya bagi kemaslahatan umat manusia di dunia sebagai bekal kehidupan selanjutnya.
Pada kenyataannya, alam selalu bergolak. Pemanfaatan sumber daya yang tidak seimbang menimbulkan bencana bagi manusai. Alam selalu menemukan keseimbangan atas apa yang dilakukan oleh manusia yang konsekwensinya dirasakan oleh mausia itu sendiri.

“Dunia ini cukup untuk memenuhi kebutuhan semua orang, tetapi tak akan pernah cukup untuk satu orang yang serakah” pernyataan Mahatma Gandhi tersebut terucap jauh sebelum isu global warming. Aturan pemanfaatan sumber daya yang tersedia bagi manusia yang sebenarnya sudah ditasbihkan oleh kitab suci berbagai agama ataupun tertuang dalam kearifan lokal seperti sebuah dogma kuno yang sepantasnya harus di langgar. Akibatnya manusia sendirilah yang merasakan ganasnya alam seperti keganasan manusia memperlakukan alam.

Isu pemanasan global resmi diungkapkan oleh para ilmuan dari berbagai negara pada tahun 1977. Selanjutnya, seiring dengan dampak yang dirasakan, pemanasan global bukan lagi sekedar isu. Negara-negara di dunia sepakat untuk mengantisipasi dampak dan mengurangi laju pemanasan global. Dipelopori oleh negara-negara Eropa dan Amerika Serikat, dengan diadakannya berbagai penelitian dan konfrensi internasional pemanasan global yang tadinya hanya sekedar isu berubah menjadi sesuatu yang nyata, mengembang menjadi penanggulangan masalah lingkungan secara keseluruhan.

Pemanasan global berdampak pada perubahan iklim, yang sekarang sangat terasa oleh sebagian besar masyarakat Indonesia. Dampak nyata pemanasan global ke depan adalah mencairnya kutub es, yang menurut para ahli pelan tapi pasti akan mengancam kehidupan. Penanggulangan komperhensif terus digalakan oleh seluruh negara di dunia dari penggunaan energi ramah lingkungan, menjaga kelestarian hutan, transportasi, penanggulangan masalah pangan akibat dari perubahan iklim dan masalah air bersih. Dibawah naungan PBB United Nations Environment Programme (UNEP) dibentuk untuk menanggulangi seluruh masalah yang berkaitan dengan lingkungan. Seluruh negara dituntut untuk menerapkan kebijakan pembangunan yang ramah lingkungan, perusahaan didorong untuk menjadi perusahaan yang ramah lingkungan, seluruh masyarakat dituntut untuk merubah pola pikir dengan mengedepankan lingkungan.

Nenek moyang manusia sebenarnya telah mewariskan kepada kita pemahama atas alam yang tertuang didalam nilai-nilai kearifan lokal yang sering di remehkan. Apa yang terjadi sekarang antara alam dan manusia adalah bentuk kesombongan manusia. Sejarah mencatat selama lebih dari 100 tahun pada masa revolusi industri yang berlangsung pada akhir abad ke 18 sampai akhir abad ke 20 telah terjadi perusakan alam secara masif. Eropa menggunduli hutannya untuk menancapkan toggak kapitalisme, Amerika menggunakan segala sumber daya, terutama minyak untuk menjadi penguasa dunia. Manusia memperlakukan alam dengan sombong. Kemajuan teknologi yang ditemukan oleh orang pintar namun dimanfaatkan oleh orang pandir yang serakah. Pada akhirnya, kenyataan menunjukan kepada kita bahwa prinsip keseimbangan alam tidak bisa diubah, bahwa semesta alam adalah kitab Kauliah yang tidak hanya harus digali tetapi juga harus dijaga kesuciannya.

Menelisik pada kasus hubungan manusia dengan alam, hakikatnya sama dengan menelisik independensi manusia. Apa yang terjadi sekarang tidak terlepas dari kesalahpahaman pemahaman hubungan manusia yang dipandang secara parsial. Doktrin kapitalisme, sosialisme, humanisme dan demokrasi mengajarkan independensi manusia, memandang manusia sebagai pengendali sentral. Manusia dipisahkan dari Sang Pencipta, agama hanya sebatas jubah, kitab suci hanya dipandang sebagai buku teks yang pada akhirnya manusia kehilangan arah dan kendali dalam mengelola sumber daya.

Hanya kesadaran sepiritual yang dapat menyadarkan setiap insan dimuka bumi untuk dapat mengelola sumber daya tanpa merusak alam. Kesadaran hubungan manusia dengan Tuhan menyangkut segala aspek kehidupan termasuk hubungan manusia dengan alam. Fitrah manusia sebagai pemimpin dimuka bumi sesuai dengan ketentuan Tuhan yang akan menyadarkan dan memunculkan tanggung jawab moral manusia terhadap semesta alam (Moral Responsibility For Nature).

“Dan tiadalah kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” – Al-Anbiya 107, Al Quran.

Sebagai pemimpin di muka bumi, keberadaan manusia dimuka bumi adalah Rahmatan lil alamin. Menghargai alam termasuk memanfaatkan kekayaan alam secara bijak. Bencana kelaparan dan bencana kemanusiaan lainnya bukan disebabkan oleh sumber daya yang disediakan semesta alam terbatas melainkan disebabkan oleh keserakahan manusia itu sendiri.

Penanggulangan masalah lingkungan seperti pemanasan global akan efektif jika hubungan manusia dengan alam menjadi kesadaran spiritual. Penghargaan dan kesadaran manusia untuk memperlakukan alam dengan bijak sebenarnya sudah melekat di setiap insan. Sebagai contoh, manusia mengabadikan keindahan alam melalui fotografi lukisan dan sebagainya. Yang perlu diupayakan adalah kesadaran spiritual nyata yang tercermin dalam setiap tindakan manusia.

Hasrat manusia untuk menuju ke kehidupan yang lebih baik pada hakikatnya adalah hasrat manusia untuk menjadi Rahmatan lil alamin. Anugrah manusia untuk berfikir adalah anugrah manusia untuk menjadi pemimpin yang bijak. Pengembangan teknologi tidak didasarkan pada kesombongan manusia, tetapi harus ditujukan untuk menuju ke kehidupan yang lebih baik. Hanya manusia yang beriman dan berfikir, hanya dengan nurani dan teknologi manusia dapat menuju ke kehidupan yang lebih baik. Kehidupan ideal dimana hubungan manusia dengan Tuhan, dengan manusia lainnya dan dengan semesta alam tidak terputus tetapi merupakan satu kesatuan yang mengerucut sebagai bentuk keimanan manusia terhadap Tuhan.

Foto:
http://www.rackheatheco-community.com/over_sustain.php