Tags

, , ,


Mencangkul-disawah
Pertanian dan Pembangunan Pertanian
Setelah berburu dan meramu, pertanian menjadi kegiatan manusia pling purba dan akan tetap abadi selama masih ada manusia di muka bumi.

Indonesia Sebagai Negara Agraris
Sebagai negara tropis, dengan struktur dataran yang terdiri dari gunung-gunung, kesuburan tanah Indonesia, dinyatakan dengan keanekaragaman hayatinya, merupakan keunggulan komparatif yang menjelaskan mengapa Indonesia dikenal sebagai negara agraris. Indonesia sebagai negara agraris adalah Indonesia dengan keunggulan komparatif, luas dan kesuburan tanahnya dimana sebagian besar masyarakatnya bergerak di bidang pertanian, menghasilkan komoditas pertanian unggul.

Kenyataanya, 39,9 juta jiwa (2013) penduduk Indonesia bergerak dibidang pertanian, perkebunan, perikanan, dan kehutanan. Kontribusi pertanian terhadap perekonomian 1.190.412,40 (Miliar Rupiah), 14,44% (2012). Luas lahan pertanian Indonesia mencapai 7,7 juta hektar dengan potensi lahan baru yang masih terbuka luas. Indonesia sebagai negara penghasil komoditas perkebunan sawit terbesar di duina, karet, teh, kopi, kakao sebagai komoditas unggulan masuk ke-5 besar produksi dunia.

Keunggulan komparatif berupa luas lahan dan keseburannya, serta keanekaragaman hayati didalamnya, yang menjadi mata pencarahian sebagian besar peduduk Indonesia sudah seharunyalah, Indonesia membangun pertanian, mengolah keunggulan komparatif menjadi keunggulan kompetitif untuk menuju Indonesia Maju, Sejahtera, Adil dan Makmur.

Apalagi seperti yang diketahui bahwasanya pertanian memegang peranan strategis dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, dimana pertanian menjadi salah satu faktor penentu kesetabilan ekonomi, sosial dan politik, maka pembangunan di bidang pertanian harus terus digalakan dari masa kemasa sesuai dengan perubahan dan tuntutan jaman.

Sekilas Tentang Pembangunan Pertanian
Berkaca pada sejarah, untuk tahun 1980 sampai tahun 1990-an, pembangunan pertanian dilakukan secara sistematis dan terencana sehingga mampu menjaga kesetabilan ekonomi, sosial dan politik dan menjadi tulang punggung dalma program pemerataan kesejahteraan masyarakat. Sejarah pahit pembangunan pertanian Indonesia terjadi ketika pembangunan ekonomi berada dipersimpangan jalan, menuju negara industri ataukah menjadi negara agraris. Ini terjadi di era 1990-an ketika Indonesia merubah haluan pembangunan ekonominya yang tadinya berlandaskan agraris, menjadi menitik beratkan pada pembangunan industri dan teknologi maju yang jauh hubungannya dengan pertanian.

Belajar dari sejarah, tragedi pembanguan pertanian di tahun 1990-an, kejadian tersebut menegaskan bahwa pembangunan di sector pertanian merupakan pintu gerbang menuju Indonesia sebagai negara maju, sejahtera, adil dan makmur. Artinya, pembangunan pertanian menuju pertanian yang modern merupakan tinggalandas bagi Indonesia untuk menjadi negara maju.

Mindset Indonesia Agraris
Kegagalan pembangunan pertanian di era 1990-an membuat Indonesia harus menata ulang pembanguan pertaniannya. Senetara pembangunan di bidang pertanian harus dipacu akselerasinya untuk memenuhi dan menjamin ketersediaan pangan 230 juta penduduk, tantangan semakin berat ketika “Indonesia adalah negara agraris” sudah tidak lagi menjadi mindset, terlupakan oleh masyarakat Indonesia sendiri. Padalah syarakt utama memajukan pertanian Indonesia yang paling efektif ketika setiap orang Indonesia merasa sebagai rang agraris. Dengan mindset demikian, barulah pembangunan pertanian dapat menemukan akselerasinya, karena setiap orang dengan sendirinya akan berperan serta sesuai minat dan bakatnya berkontribusi pada pembangunan agraris, yaitu pembangunan di sector pertanian.

ICT Sebagai Penghantar Pertanian Modern
Dalam upaya membangkitkan kembali pertanian Indonesia, menjadikan Indonesia Agraris sebagai mindset pada setiap insan Indonesia harus dilakukan dengan cara-cara yang keratif, inovatif dan edukatif sesuai dengan perkembangan jaman.

Perkembangan teknologi dibidang informasi dan komunikasi sudah semakin pesat dan luas. Sekarang, manusia sudah tidak bisa terlepas dari informasi dan komunikasi, kehidupan online dan offline sudah menyatu menjadi bagian kehidupan manusia. Dalam peran membangkitkan kembali pertanian Indonesia ICT menjadi alat atau media yang efektif dan efisien menghantarkan pertanian Indonesia menuju pertanian modern.

Faktanya, jumlah pengguna internet di Indonesia mencapai lebih dari 60 juta (2012). Indonesia juga menempati urutan ke-4 untuk pengguna social media facebook dengan jumlah pengguna mencapai 48,8 juta, dan Tweeter menempati urutan ke-5. Seiring dengan perkembangan teknologi, mobile phone, menjadi alat yang efektif dan efisien untuk mengakses internet. Dari fakta tersebut, memanfaatan IT di bidang pertanian sangat potensial untuk mweujudkan pertanian modern.

ICT dapat dikembangkan untuk menudukung kegiatan pertanian di tingkat on farm dan off farm meliputi informasi iklim dan cuaca, budidaya, akses terhadap faktor produksi, akses terhadap pasar, pengetahuan pertanian, menjadi sarana dan prasarana untuk mendukung efisiensi dan efelktifitas dalam produksi, distribusi dan pemasaran pertanian yang dapat digunakan secara massif sebagai akselerasi pembangunan pertanian.

Gambar:http://blog.umy.ac.id/rahmadtm/files/2012/10/Mencangkul-disawah.jpg