Tags

, , ,


Oleh: Udin Wiratno

Pembangunan Ekonomi Indonesia

Tahun 2015 menjadi milestone ketiga dalam rangka mewujudkan RPJPN 2005-2025 yaitu, terwujudnya masyarakat Indonesia yang mandiri, maju, adil, dan makmur, melalui percepatan pembangunan, struktur perekonomian yang kokoh berlandaskan keunggulan kompetitif daerah dan SDM yang berkualitas dan berdaya saing.

Pada milestone ketiga ini, perekonomian Indonesia dihadapkan berbagai tantangan, baik dalam dan luar negeri. Tantangan perekonomian yang berasal dari luar negeri diantaranya: 1) The ASEAN Community; 2) krisis keuangan global; 3) turbelensi ekonomi Asia. Untuk dalam negeri, perekonomian nasional dihadapkan pada tantangan, 1) ketersediaan infrastruktur sebagai penunjang utama kegiatan ekonomi; 2) struktur perekonomian yang masih dalam penguatan; 3) penguasaan dan pemanfaatan teknologi yang masih terbatas.

Dengan potensi ekonomi yang dimiliki, optimisme atau harapan untuk meningkatkan laju pertumbuhan ekonomi dan mewujudkan perekonomian yang berprinsip pada keadilan sosial, sesuai dengan tujuan pembangunan jangka pendek, menengah, dan panjang pemerintah sesungguhnya sangatlah mungkin dilakukan.

Jumlah penduduk Indonesia sebesar 251 juta, merupakan sumberdaya yang juga sekaligus potensi pasar dalam negeri. Jumlah angkatan kerja Indonesia sebesar 121 juta jiwa, yang masih menempuh bangku sekolah 16,7 juta jiwa (BPS).

Keanekaragaman hanyati, letak geografi Indonesia, kekayaan laut, potensi agraris dan kandungan mineral alam merupakan keunggulan komparatif yang tak terhitung nilainya dan belum dimanfaatkan secara maksimal bagi kesejahteraan rakyat.

Kenyataannya, pada tahun 2015 ini, asumsi pertumbuhan ekonomi sebesar 5,5%-6,0%, inflasi sebesar 5,0%-5,5%, dan dengan asumsi nilai tukar rupiah terhadap dolar Rp. 11.600. nilai tambah industri besar dan sedang 2008-2013 sebesar 13% (BPS), pertumbuhan ekspor tahun 2012 mengalami penurunan -7,1% dan usaha mikro dan kecil (UMK) yang menjadi harapan dan penopang ekonomi nasional juga mengalami stagnasi. Penyaluran kredit perbankan kepada sektor riil, khususnya usaha kecil dan menengah relatif kecil.

Di sektor moneter dan keuangan, terintegrasinya ekonomi nasional dengan ekonomi global menjadikan ekonomi Indonesia terpengaruh pada dinamika ekonomi internasional, baik positif maupun negatif. Salah satu contoh yng belum lama terjadi adalah krisis keuangan global 2008 dan gejolak ekonomi Eropa, walaupun pada akhirnya dapat dikendalikan, namun sempat menggerus cadangan devisa, mengganggu stabilitas perekonomian nasional.i

Peranan Kewirausahaan Dalam Pembangunan Ekonomi

National Endowment Factor seperti yang dikemukakan oleh Michael Porter merupakan faktor penting dalam daya saing suatu negara. NEF yang salah satunya mewujud pada faktor produksi agar memiliki nilai tambah, membutuhkan pelaku ekonomi-pelaku ekonomi yang handal, mandiri, ulet, dan kreatif. Disinilah peran wirausaha sangat strateagis sebagai aktor utama untuk menciptakan nilai tambah di sektor riil dan di wilayah ekonomi baru, meningkatkan PDB, menyerap tenaga kerja dan pada akhirnya meningkatkan pendapatan masyarakat. Siapa pelaku ekonomi itu? Dia adalah wirausahawan (entrepreneur), seorang yang memiliki visi melayani masyarakat dan kemampuan mewujudkannya dengan cara mengkoordinir, mengelaborasi, faktor produksi terkait, menciptakan nilai tambah ekonomi, menghasilkan produk berupa barang dan jasa. Dari kegiatan pelayanan tersebut wirausaha mendapatkan manfaat ekonomi.

Pendekatan Kewirausahaan

Dalam beberapa dekade yang lalu, pembangunan ekonomi lebih menitikberatkan pada faktor produksi dan mengutamakan pada kegiatan ekonomi ekstraktif. Untuk ke depan perlu paradigm baru yaitu menitikberatkan pada knowledge based economy. Visi ekonomi menjadi sesuatu yang penting. Disinilah entrepreneurial economy akan semakin berperan. Ekonomi kewirausahaan (entrepreneurial economy) dapat didefinisikan sebagai model pembangunan ekonomi melalui pendekatan kewirausahaan. Dalam ekonomi kewirausahaan terkandung tiga aspek utama, 1) pelaku, yaitu wirausahawan; 2) kegiatan kewirausahaan yang merupakan kegiatan penciptaan nilai tambah ekonomi atau kegiatan inovasi; dan, 3) ekosistem kewirausahaan (entrepreneurial ecosystem), atau lingkungan yang memicu dan mendorong kegiatan kewirausahaan. Pembangunan ekonomi melalui pendekatan kewirausahaan mencakup tiga aspek tersebut, intinya meningkatkan nilai tambah ekonomi (inovasi) melalui peran dan partisipasi masyarakat, sehingga produksi nasional meningkat, membuka lapangan kerja baru, dan pada akhirnya meningkatkan pendapatan masyarakat.

Penutup

Pembangunan ekonomi dengan pendekatan kewirausahaan (entrepreneurial economy) juga menjadi salah satu alternatif ideal untuk menciptakan pertumbuhan inklusif, meningkatkan penyaluran kredit perbankan tanpa meninggalkan aspek prudensial, menekan laju inflasi inti melalui peningkatan produktivitas, dan sebagai media elaborasi saling mendukung antara sektor moneter, keuangan dan sektor riil. Terakhir pembangunan ekonomi dengan pendekatan kewirausahaan akan mendorong terjadinya proliferasi wirausaha sehingga diharapkan ekonomi akan tumbuh merata dan berkualitas.