Tags

, , , , ,


By Antasena Wiyono

Narestri,
Kau penerus genetikaku
Didalam tubuhmu, mengalir darahku
Didalam pikiranmu, tertanam nilai-nilai keseharianku

Narestri,
Cintamu adalah keikhlasanku
Bijakmu adalah pengendalian nafs-ku
Pintarmu adalah ketulusanku

Sementara kau belajar berjalan, menapak tanah setapak demi setapak, aku belajar menjalani kehidupan, hidup dan menghidupkan.

Sementara kau belajar bicara,ba..ba..na..na.. aku masih belajar meraba dunia, tertawa dan menangis, menakar dan mengais, mengisi warna-warna dunia.

Tahukah kau Narestri, bahwa terkadang aku merasa kau miliku sepenuhnya
Kau adalah buah senggama cintaku sepenuhnya
Segera setelah angin berhebus membelai wajahku,kesadaranku menyatakan
Kau adalah amanat, salah satu fungsi dalam peranku di dunia
Aku hanya pengatar gerbang takdirmu
Aku hanya berhak merasa seolah aku memilikumu

Jendra,
Kau hadir di jaman bencana kemanusiaan, dimana kebenaran terbungkus oleh kepalsuan, kejujuran tertimbun oleh kemunafikan, ketulusan terkikis oleh pamerih.
Jaman dimana kebanyakan orang mengira bahwa cinta dapat diukur,
Segala sesuatunya tersamarkan oleh kebenaran kolektif yang belum tentu kebenaran universal
Atas keadaan yang tak menentu ini, aku takut, aku resah, aku bingung,

Berpikir keras…
Bagaimana aku menjalani kehidupan di jaman yang seperti ini
Dan, bagaimana aku berbuat yang terbaik untukmu

Jendra,
Kau harapanku satu-satunya
Sampai saat ini, kau kekuatan kesabaranku walaupun terkadang kau menekanku dengan kekuatan keadaan untuk ada,
Seraya membisikiku untuk tabah menjalani kehidupan dunia.
Betapapun aku mengarungi keberadaanmu melalui alam pikiranku, kadang aku merasa kau keakuankku
Kadang juga aku merasa kau rahasia yang menjadi teman senyapku yang nyata
Di selisih waktu, aku panjatkan doa-doa untukmu,
Kututurkan mantra-mantra agar supaya aku dapat menjumpaimu dalam wujud yang paling nyata

Soka,
Tangismu ditengah malam segera menyadarkan akan tugasku untuk bikin susu
Disertai dengan kantuk, beranjak aku kedapur yang tak rapi,
Diantara ketidak sadaranku, aku rindu senyum pagimu, celoteh cedalmu yang bertautan dengan camar
Sesaat senyap, membuatku terjaga akan kantukku , mengingatkan aku akan diriku yang masih compang camping

Soka,
Ditengah remang cahaya listrik disertai gemuruh kipas angin, dalam lelap tidurmu aku mebelaimu
Sementara kau bermain didalam mimpimu, kuciumi pipimu kurengkuh tubuh mungilmu
Sambil beranjak, sekilas disebelah tubuh mungilmu, surgamu yang mewujud tergeletak lelap dalam keletihan
Sambil terhuyung meninggalkanmu, aku mengambil laptop naik ke atas,

Eh…. Tak terasa air mataku mengalir, darah didalam tubuhku bergejolak
Aku tersentak oleh derita bahagiaku

Hayupertiwi,
Anggap saja ini bisikan cintaku padamu
Kau adalah ibu, bukan sekedar bagi anak-anakmu, tetapi juga bagi sesamamu, bangsa dan negaramu
Kau adalah ibu pertiwi

Hayupertiwi,
Meskipun kau lahir dialam yang sedang gersang, jangan kau patah arang
Jadikan welas asihmu sebagai pedang guna mewujudkan kemakmuran dan kedamian tanah kelahiran, tanah pengharapan
Hayupertiwi, maafkan aku yang masih hanya bisa bertutur, lakuku masih berliku, tekadku masih belum sekuat batu

Dikesunyian, di sepertiga malam yang memberiku kedamaian
Hujan turun bersama petir, gelegar dan kilat berkilauan, seolah ingin memberitahuku, menyibakkan rahasia malam
Senyapku sepintas lalu, kuteruskan dengan kegiatanku dimana aku harus menyambut pagi, menyongsong munculnya matahari dan geliat ranum bumi

Lalu aku turun kebawah, kuusap mukamu, kukecup keningmu
Lirih aku menyebut namamu,
Narestri Jendra Soka Hayupertiwi