Tags

, , ,


By Antasena Wiyono

Diatas altar yang dibangun dari darah dan air mata para pahlawan
Atas dasar kejayaan masa lalu yang tertimbun oleh sejarah feodal yang menjadi pedoman setiap pemikiran
Dengan ini aku menyatakan perlawanan terhadap keadaan
Aku mengajakmu bersatu kawan, aku menantangmu lawan

Sodara,
Sadarkah sebagai bangsa sudah lama kita tidak bernah menyatu?
Sekarang kita adalah rumpun yang terpisah-pisah rancu
Setiap perbedaan membuat kita bersetru

Sodara
Sadarkah bahwa kita sebenarnya kita satu jasad, satu kepentingan dan satu tujuan?
Ada buruh ada majikan, keduanya bekerjasama untuk penghidupan dan kemakmuran, bukan untuk memperlebar kesenjangan
Diantara Sabang sampai Merauke terbentang potensi yang berbeda-beda, yang jika menyatu kita dapat menghidupi dunia, memberi sumbangsih lebih pada peradaban
Antara kau, aku dan kamu pastilah tidak sama, terpisahkan hasrat keinginan dan keadaan, tapi bukan alasan tidak menjadi saudara, kawan senasib dan sepenanggungan

Kita begini karena kita terlalu kaku untuk menyatakan bahwa kita adalah mereka, kau adalah aku
Karena di otak kita masih tertanam sisa-sisa doktrin politik pecah belah yang diwariskan oleh para penjajah
Kita hanya bisa mendefinisikan kita sebagai individu
Tidak pernah kita menengok sejarah, bahwa kepribadian kita sebenarnya sudah terjarah

Sodara
Apakah hanya dengan momen monumental 17 agustus 1945 kita dengan otomatis merdeka?
Tidak,