Tags

, , , , ,


ciputranews_1386061449
By Udin Wiratno

LATAR BELAKANG
Dinamika perubahan selama lebih dari satu dasawarsa terakhir telah merambah berbagai aspek kehidupan sosial, budaya, ekonomi, politik, dan ketatanegaraan. Berlandaskan semangat reformasi, dengan tujuan membangun era baru, dengan menata ulang ketatanegaraan yang dulunya, yaitu era orde baru yang dianggap serat dengan diskriminasi dan pengekangan atas hak-hak warga Negara, menuju era demokrasi mengedepankan kebebasan berpikir, berpendapat dan bertindak, pada kenyataannya bangsa Indonesia terjebak dalam disorientasi kebangsaan, yaitu pudarnya tujuan berbangsa dan bernegara, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.

Ketidaksiapan masyarakat menerima kebebasan mengakibatkan kerusakan pada tantanan sosial, budaya bahkan tatanan berbangsa dan bernegara. Kita sebagai bangsa tidak dapat menyerap dan mengartikulasikan kemajuan jaman, sehingga kebebasan dalam arus globalisasi, kemajuan teknologi dan integrasi ekonomi dunia lebih berdampak buruk pada kehidupan berbangsa dan bernegara.

Akibatnya, jumlah konflik baik vertikal maupun horizontal mengalami peningkatan yang cukup tajam. Berdasarkan peta konflik yang disusun oleh Badan Penanggulangan Bencana Konflik jumlah konflik di Indonesia pada tahun 2007 mencapai…dengan … daerah rawan konflik. Indeks pembangunan merosot, manusia hanya menempati posisi … dari … Negara. Indeks pembangunan pendidikan Indonesia berada pada peringkat … dari… Negara. Indeks pembangunan ekonomi Indonesia mengalami kemuduruan berada di peringkat ke .. dari … Negara. Sementara itu indeks persepsi korupsi melonjak tajam berada di peringkat … dari… Negara. Fenomena korupsi menjadi seolah hal yang biasa, pornografi, gaya hidup K-Pop, kebarat-baratan, individualisme dan materialisme meruntuhkan tata nilai dan norma masyarakat.

Atas kenyataan tersebut, Indonesia sebagai satu kesatuan kebangsaan seolah tidak mempunyai otoritas atas dirinya. Kesadaran sebuah bangsa yang mempunyai jati diri, karakter dan keperibadian sudah tidak tercermin pada prilaku masyarakat dan tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara. Indonesia sebagai sebuah bangsa seolah tidak mempunyai kemandirian berpikir, pembangunan didasarkan pada logika tanpa keyakinan sehingga tidak bisa mengembangkan nilai-nilai kebangsaan yang sesuai jati diri manusia Indonesia dan sesuai dengan perkembangan jaman.

PANCASILA
Pancasila konsep
Dasar-dasar berbangsa dan bernegara sebenarnya sudah diletakan oleh para founding father Negara ini. Pancasila merupakan dasar Negara, pandangan hidup dan ideologi bangsa Indonesia yang syah sampai sekarang ini. Pancasila adalah jiwa, atau ruh dari bangsa Indonesia. Sila pertama “Ketuhanan Yang Maha Esa”, Sila kedua “Kemanusiaan yang Adil dan Beradab”, Sila Ketiga “Persatuan Indonesia” merupakan jati diri bangsa Indonesia, dasar pembangunan karakter manusia Indonesia yaitu atas dasar Ketuhanan, memiliki rasa kemanusiaan, mampu bersikap adil, berprilaku beradab, dan mengedepankan persatuan Indonesia.

Sila pertama adalah belief atau keyakinan dalam berbangsa dan bernegara. Sila kedua adalah dasar nilai-nilai kehidupan berbangsa dan bernegara, dan sila ketiga merupakan norma dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Sila pertama sampai sila ketiga merupakan panduan harmoni dalam berbangsa dan bernegara.

Sila Keempat “Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat dalam Kebijaksanaan, Permusyawaratan/Perwakilan” merupakan dasar tata negara dalam berbangsa dan bernegara.

Sila Kelima “Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia” merupakan tujuan dalam berbangsa dan bernegara.
Apa yang terjadi saat ini tidak terlepas dari tidak berfungsinya Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, baik Pancasila sebagai pandangan hidup, Pancasila sebagai dasar negara dan Pancasila sebagai ideologi. Kenyataan itu tercermin dari survei pandangan masyarakat terhadap ideologi dan ideologi Pancasila.
Survei Pancasila
Survei ini dilakukan di Jakarta dengan pengambilan sampel pada 15 Universitas, 8 LSM dan 2 Institusi atau lembaga pemerintah. Dari hasil survei masyarakat berpandangan bahwa bangsa Indonesia sudah jauh dari nilai-nilai Pancasila, tata negara, prilaku masyarakat, institusi pemerintah tidak sesuai, tidak mencerminkan atau tidak berasaskan Pancasila.

KEDAULATAN KEBUDAYAAN
Atas dasar hal tersebut diatas, makalah ini mempertanyakan kedaulatan kebudayan nasional. Mengapa kedaulatan kebudayaan? Kedaulatan kebudayaan berasal dari dua kata, kedaulatan yang berasal dari kata daulat, yaitu otoritas penuh, dan kebudayaan yang berasal dari kata budaya, budhi dan daya, yaitu cipta, rasa dan karsa manusia. Kedaulatan kebudayaan disini menggambarkan arti otoritas penuh atas ide dan gagasan cipta, rasa dan karsa manusia Indonesia.

Pancasila lahir atas buah kemerdekaan berpikir, berpendapat dan bertindak, dirumuskan dengan kejerinhan pikiran dan kesadaran dan semangat kebangsaan yang tinggi oleh para pendiri bangsa ini. Bung Karno presiden pertama dan salah satu founding father bangsa Indonesia menyatakan pentingnya pembangunan karakter bangsa sebagai modal untuk menghadapi tantangan kedepan. Kedaulatan kebudayaan nasional berarti juga mewujudkan kebudayaan yang bersumber dari dan sesuai dengan nilai-nilai Pancasila. Sejarah menyatakan bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar dengan peradaban yang adiluhung, bangsa yang mampu menyerap inti sari nilai-nilai kemajuan jaman baik yang berasal dari luar maupun yang berasal dari dalam. Bangsa Indonesia adalah bangsa dengan daya kreatif yang tinggi, mampu meng-asimilasi dan meng-akulturasi nilai-nilai budaya dari berbagai belahan dunia, dalam rangka proses pembentukan budaya nusantara.

Makalah ini berdasarkan pada tesis bahwa, kerusakan tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara sekarang ini disebabkan karena pikiran dan mental yang terjajah, akibat dari tidak berfungsinya Pancasila sebagai pandangan hidup, Pancasila sebagai dasar negara maupun Pancasila sebagai ideologi negara.

Pikiran yang terjajah adalah pikiran yang terkekang oleh setigma keagungan pemikiran luar, menafikan pikiran yang jujur dan orisinil yang sesuai dengan keyakinan, ruang dan waktu. Sedangkan mental yang terjajah adalah mental yang tidak mandiri dan tidak percaya diri, atau minder dan tergantung pada sesuatu atau orang lain.

Kedaulatan kebudayaan menjadi penting karena menghasilkan sistem gagasan atau ide, cipta, rasa dan karsa yang bersumber dari pemikiran yang jernih dan mental yang merdeka, percaya pada kemampuan diri sendiri, dan keduanya berdasarkan pada sebuah keyakinan yang bersumber dari hati nurani. Sehingga dengan kedaulatan kebudayaan karakter dan jati diri bangsa Indonesia akan terbangun dengan sendirinya.

Referensi:
Gambar: http://www.ciputranews.com/media/images/2013/12/ciputranews_1386061449.jpg